Tenggarong – Pemerintah Desa Muara Badak Ulu, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan angka stunting di wilayahnya mengalami penurunan drastis dari angka semula berada pada kisaran lebih dari 60 kasus pada awal tahun, kini menurun drastis hingga berada di angka 20 kasus.
Kepala Desa Muara Badak Ulu, Ruslan Efendi, menegaskan bahwa stunting tidak hanya terjadi karena faktor ekonomi, tetapi juga pola asuh, pengetahuan gizi, serta kondisi lingkungan.
Karena itu, desa menggencarkan edukasi kepada orang tua mengenai pemenuhan gizi, pola makan seimbang, dan pentingnya pemeriksaan berkala di posyandu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Banyak kasus stunting terjadi bukan karena orang tua tidak mampu, tapi karena kurangnya perhatian dan kesibukan. Maka edukasi menjadi kunci,” jelasnya, Senin (24/11/2025).
Ia mengatakan penimbangan serentak yang dilakukan pada November ini sampai Desember mendatang menjadi momen penting dalam memperbarui data tumbuh kembang anak. Melalui kegiatan ini, kader dapat mendeteksi lebih cepat jika ada balita berisiko gizi buruk atau pertumbuhan tidak normal.
Data tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pemberian PMT, intervensi kesehatan, serta monitoring lanjutan oleh tenaga kesehatan desa.
Ia menjelaskan, pihaknya terus memperkuat peran posyandu melalui penerapan sistem 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Stunting harus benar-benar zero. Walaupun angka sudah turun jauh, kelahiran baru akan terus ada. Ini artinya intervensi tidak boleh berhenti,” pungkas Ruslan.















