Tenggarong – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus berkontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PAD). Salah satu unit usaha utama yang dikelola adalah pengolahan air bersih, yang telah berjalan selama lebih dari 10 tahun.
Kepala Desa Margahayu, Rusdi, mengungkapkan bahwa sumber air bersih tersebut berasal dari eks tambang kolam milik PT Multi Harapan Utama (MHU) yang telah diserahkan kepada desa.
Kolam itu kini dimanfaatkan melalui kerja sama antara BUMDes dan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari MHU, serta mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat melalui program Pansismas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebelumnya masyarakat menggunakan air sumur, air hujan, atau beli air galonan. Sekarang dengan sistem manajemen berbasis aplikasi digital, mereka bisa menikmati air bersih hanya dengan biaya sekitar Rp6.000. Ini sangat membantu,” jelas Rusdi, baru baru ini.
Ia mengatakan unit usaha air bersih tersebut menjadi salah satu sumber PAD desa.
Tidak hanya berhenti di sana, sebut dia, BUMDes Margahayu juga telah mengembangkan unit usaha baru berupa toko Alat Tulis Kantor (ATK), usaha plinting dan percetakan yang bekerja sama dengan seluruh lembaga pendidikan di desa, mulai dari PAUD hingga SMA.
“Selama ini, masyarakat dari wilayah Jonggon mencetak dokumen ke Tenggarong. Sekarang, BUMDes bisa menyediakan layanan cetak langsung di desa. Ini potensi besar,” ungkapnya.
Selain bidang layanan dan niaga, BUMDes juga tengah menjalankan program ketahanan pangan melalui budidaya ikan lele di kolam buatan. Program ini memanfaatkan dana desa sebesar Rp 200 juta dari alokasi 20 persen ketahanan pangan.
“Kami manfaatkan lahan milik desa di sekitar kantor desa sebagai kolam budidaya lele, sekaligus menjadi lokasi wisata pemancingan. Satu kolam bisa menampung hingga 30 ribu ekor,” terangnya.
Hasil budidaya ini, sambung dia akan dimanfaatkan untuk mendukung program tambahan gizi bagi balita kurang mampu sebagai bagian dari penanganan stunting di desa.
Rusdi menyebutkan bahwa dalam satu tahun terakhir, BUMDes telah menyumbang PAD sebesar Rp12 juta, dan ke depannya ditargetkan bisa meningkat dua kali lipat.
“Sekarang ATK dan percetakan sudah mulai jalan. Kalau ketahanan pangan ini juga berkembang, insyaallah PAD bisa meningkat jadi Rp 30 juta per tahun,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan BUMDes dilaksanakan secara aktif dan rutin melaporkan progres ke pemerintah desa.
“Laporan-laporan selalu disampaikan, dan kegiatan berjalan bertahap. Kami optimis BUMDes Margahayu akan terus tumbuh dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” pungkas Rusdi.















