Tenggarong – Pemerintah Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Salah satu buktinya adalah dengan berdirinya Bank Sampah yang dinamai Sampah Membawa Berkah (Sambar) yang telah berjalan hampir setengah tahun terakhir.
Kepala Desa Loh Sumber, Sukirno menjelaskan bahw program ini merupakan tindak lanjut dari keberhasilan yang telah diraih tentang pengelolaan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) pada tahjn 2022–2023.
“Alhamdulillah, terkait hal tersebut, kami sudah memproses dan memprogram kegiatannya. Sudah terbentuk juga, hampir setengah tahun ini, Bank Sampah yang ada di Desa Loh Sumber,” ujar Sukirno, Kamis (8/5/2025)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, kegiatan Bank Sampah ini rutin dilakukan setiap hari Kamis dalam sebulan. Selain itu, kami juga aktif mensosialisasikan kepada masyarakat Loha Sumber termasuk ke sekolah-sekolah seperti SD dan SMP. “Kami lakukan secara santai, kami motivasi dan edukasi bahwa sampah itu bisa membawa berkah, tidak selalu harus dibuang,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memparkan bank sampah Sambar merupakan bagian dari empat program prioritas kami dalam upaya membentuk masyarakat yang lebih sadar lingkungan sekaligus produktif secara ekonomi. Meski belum di-launching secara resmi, progres yang ada sudah menunjukkan hasil menggembirakan.
“Alhamdulillah, tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah karena program ini membantu mengurangi sampah plastik, khususnya yang biasa berserakan di pinggir-pinggir jalan,” kata Sukirno.
Ia menyebutjan dampaknya pun sangat terlihat jelas. Jalanan di sini terlihat lebih bersih dan warga mulai terbiasa memilah dan mengumpulkannya secara teratur untuk ditabung di bank sampah ini.
Tak hanya itu, kata dia, kita juga telah membentuk tim khusus untuk pengambilan sampah dari rumah ke rumah. Beberapa waktu lalu, bahkan telah digelar kegiatan pembuatan pot tanaman dari hasil daur ulang sebagai bentuk implementasi kreativitas dalam pengolahan limbah.
“Sekarang, sampah-sampah itu sudah mulai jarang terlihat. Jadi, sedikit demi sedikit mulai berkurang. Daripada mubazir atau hanya menjadi limbah rumah tangga, sekarang bisa lebih produktif,” pungkas Sukirno.















