Tenggarong – Kepala Desa Kahala Ilir, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Mahlan, menegaskan bahwa mayoritas warganya telah memiliki kebun sawit.
Komoditas ini, sebut Mahlan telah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat sejak bertahun-tahun lalu.
“Bisa kita katakan satu rumah itu pasti ada (sawit). Hampir 99 persen,” kata Mahlan, saat dihubungi melalui via selurel, Kamis (10/7/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mahlan menyebutkan, dominasi sawit bukan berarti menutup ruang untuk pengembangan sektor lain.
Ia mengatakan bahwa arah pembangunan desa tetap berfokus pada upaya mewujudkan ketahanan pangan secara menyeluruh.
“Fokus kita di ketahanan pangan dan ketahanan pangan ini tidak bisa hanya disandarkan pada satu sektor saja,” tuturnya.
Ia merinci bahwa ada tiga sektor penunjang utama yang menjadi perhatian pemerintah desa: perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan. Sinergi antar sektor ini dianggap sebagai kunci menjaga stabilitas pangan desa.
Di sektor perkebunan, selain sawit, masyarakat juga mulai diarahkan untuk menanam komoditas lain yang memiliki siklus lebih cepat, seperti sayuran dan buah-buahan.
“Kita tetap pada aneka. Kita mencoba mendorong juga masyarakat ini untuk tidak hanya bergantung pada sawit,” katanya.
Mahlan menilai, pola tanam pendamping sangat cocok diterapkan khususnya bagi petani pemula atau pemilik kebun sawit yang baru menanam. Pasalnya, tanaman sawit memerlukan waktu tahunan sebelum bisa dipanen.
“Kalau sawit yang baru tanam itu kan masa tunggu cukup lama. Maka itu bisa ditanami dulu sayur atau buah sebagai pendampingnya,” tutur Mahlan.
Melalui strategi ini, menurut Mahlan, lahan tetap produktif sembari menunggu hasil panen sawit. Selain itu, petani tetap memperoleh penghasilan dari hasil panen tanaman semusim.
Adapun, kata dia, beberapa jenis sayuran yang mulai dikembangkan antara lain jagung, cabai, dan terong. Tanaman-tanaman ini tidak hanya mudah dibudidayakan tetapi juga memiliki nilai pasar yang cukup baik di tingkat lokal.
“Kemarin kita coba jagung, kemudian sayur-sayur. Respon masyarakat cukup bagus,” ujar Mahlan.
Pemerintah desa pun berupaya memberikan pendampingan dan pelatihan bagi warga, khususnya dalam hal pengolahan lahan, pemilihan bibit, hingga pemasaran hasil pertanian.
Selain sektor pertanian, Desa Kahala Ilir juga mulai mendorong pengembangan potensi peternakan dan perikanan, sebagai bagian dari kerangka ketahanan pangan jangka panjang.
Mahlan berharap pendekatan terpadu ini dapat meningkatkan kemandirian masyarakat desa serta mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas tertentu.
“Kita ingin masyarakat punya banyak pilihan sumber penghidupan, bukan hanya dari sawit,” pungkas Mahlan.















