Tenggarong – Desa Perangat Baru di Kecamatan Marang Kayu terus menunjukkan kemampuannya dalam mengangkat potensi lokal menjadi sumber kekuatan ekonomi desa.
Salah satu buktinya adalah keberhasilan kopi luwak hasil fermentasi alami dari desa ini menembus pasar ekspor dengan nilai jual fantastis mencapai Rp5 juta per kilogram.
Produk unggulan tersebut secara resmi diluncurkan dalam sebuah acara di Hotel Mercure Ibis dan mendapat respon positif dari sejumlah pihak, termasuk calon pembeli dari luar negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami meluncurkan produk kopi luwak di Hotel Mercure Ibis, dan harga ekspor bisa mencapai Rp5 juta per kilogram,” ujar Kepala Desa Perangat Baru, Fitriari, Jumat (9/5/2025).
Untuk pasar lokal, terutama di kawasan wisata Bukit Luar Bandrol, kopi ini ditawarkan dengan harga sekitar Rp4,25 juta per kilogram.
Dengan dua kali musim panen setiap tahun, yaitu Agustus dan Februari, serta rata-rata lima kilogram hasil panen per pohon, kopi luwak menjadi sumber ekonomi baru yang menjanjikan bagi warga.
Produksi saat ini masih ditangani oleh kelompok tani, namun pemerintah desa tengah menyiapkan skema pengelolaan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) guna memperkuat Pendapatan Asli Desa (PAD) dan memperluas manfaat ekonomi ke seluruh lapisan masyarakat.
“Kami sedang mendorong agar masyarakat memandang ini bukan sekadar usaha kelompok, tetapi sebagai aset desa yang dikelola secara profesional,” tambahnya.
Untuk menjamin kesinambungan produksi, pemerintah desa telah menerbitkan peraturan desa yang mewajibkan setiap kepala keluarga menanam minimal 10 pohon kopi, sebagai strategi menjaga suplai bahan baku di tengah tingginya permintaan pasar.
“Yang jadi tantangan bukan soal rasa atau harga, tapi ketersediaan stok. Itu yang sekarang kami fokuskan,” jelas Fitriari.
Selain kopi luwak, para petani juga mengembangkan varietas lain seperti Liberica, Red Honey, dan Natural, yang dipasarkan dengan harga antara Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per kilogram.
Program CSR Pertamina Hulu Kalimantan Timur turut berperan dalam mendukung pengembangan sektor ini melalui pelatihan, bantuan bibit, hingga alat produksi.
Kini, Desa Perangat Baru juga tengah merintis wisata edukatif berbasis kopi. Wisatawan tidak hanya dapat melihat proses budidaya, tetapi juga merasakan langsung pengalaman menjadi petani dan barista kopi.
“Kami ingin membangun citra bahwa kopi dari desa ini bukan hanya produk lokal, tapi komoditas bernilai tinggi yang bisa menjadi tumpuan ekonomi masyarakat,” pungkasnya















